Tanggal 6 Juli 2025 saya bersama keluarga mengantar keponakan nyantri di Pondok Ar-risalah Lirboyo Kediri. Pondok Tua yang menjadi kiblat santri dan Ulama Nasional. Pondok yang memiliki reputasi baik dalam mencetak santri yang memiliki wawasan keislaman yang mengakar dan luas.
![]() |
| Pintu gerbang Pesantren Terpadu Ar-Risalah, berlokasi di Area Pesantren Lirboyo |
Dalam kesempatan menunggu keponakan yang sedang disowankan kepada Ndalem, sebutan bagi keluarga pengasuh pesanrtren, saya mencoba keliling pondok. Dengan berjalan kaki, saya mengunjungi toko buku pondok yang menjual buku-buku dan souvenir khas Pesantren Lirboyo. Selain itu, saya juga mengamati lalu lalang santri yang keluar masuk gedung asrama. Sebagian ada yang akan melaksanakan pemebelajaran sebagian yang lain telah menyelesaikannya. Ada pula yang lalu Lalang untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Yang unik dari fenomena tersebut, masih banyak santri yang tidak mengenakan alas kaki. Ini memang khas situasi di pondok salaf.
Di tengah siteview, tetiba perhatian saya teralihkan pada iklan yang tertempel pada dinding salah satu kamar mandi di sekitaran pondok. Iklan pada kertas HVS putih tersebut bertuliskan “Manuskrip Pengajian Tasawuf Pertanian Karya Gus Sa’id...”. Seketika saya penasaran tentang manuskrip sekaligus pengajian tersebut.
Siapa sosok Gus Sai’id, apa konten pengajian Tasawuf pertanian yang diajarkan, dan dimana kira-kira manuskrip tersebut dapat diperoleh. Tiga pertanyaan yang memantik saya untuk menelusuri melalui media online, bertanya kepada orang-orang yang saya temui di sekitar pondok, dan melacaknya dengan mengunjungi toko kitab yang tersebar di area pondok.
Sebelum saya menemukan selebaran informasi tersebut, saya telah mengetahui bahwa para alumni pesantran salaf dicetak untuk menjadi alumni yang siap terjun ke masyarakat. Mereka akan menjadi imamtahlīl, menjadi guru ngaji atupun peran-peran penting bermasyarakat lainya. Para alumni pesantren salaf juga tidak canggung untuk menjadi petani konvensional atau menjadi tukang bangunan. Mereka dididik untuk tidak gengsi untuk mengambil peran dalam profesi-profesi tersebut. Bagi mereka itu semua adalah pekerjaan mulia.
Saya mendapati teman atau keluarga yang mondok di pesantren salaf juga menjadi petani saat masih di pondok. Hal itu dilakukan untuk menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Memang tidak semua tetapi tidak sedikit bahwa mereka yang mondok di pesantren salaf seperti itu biasanya tidak banyak dibekali materi dari rumah. Fakta ini memang tidak dapat dipukul rata tetapi itu menjadi fenomena yang tidak boleh terlewatkan dalam wacana pondok pesantren salaf. Sebab, dalam dua dasawarsa ini pondok pesantren salaf sudah mengalami perkembangan dan perubahan. Misalnya masuknya Pendidikan formal serta pesatnya media digital yang juga merambah santri pondok salaf. Santri salaf sudah tidak lagi dipotret sebagaimana santri pondok salaf sebelumnya.
Meskipun begitu, sepertinya identitas kesalafan mereka masih terjaga. Betapapun ada yang mencibir dan menilai santri salaf tertinggal namung faktanya pondok tersebut telah melahirkan tokoh-tokoh besar nasional, pun juga ribuan atau bahkan jutaan tokoh yang berkiprah nyata di masyarakat akar rumput.
Tentang sosok pengampu pengajian tasawuf pertanian, ia adalah Gus Sa’id. Berdasarkan penulusuran informasi yang saya peroleh, Gus Said yang bernama lengkap Said Ridwan banyak berbicara tentang tasawuf aplikatif. Tasawuf yang membumi seperti tasawuf lintas profesi yang lebih menekenkan substansi (isi) ajaran dibanding performa ritual sufistik yang tampak formalistic, sebagaimana pada laku bertasawuf pada umumnya.
Bahkan Gus Said sempat menjadu atensi publik saat melontarkan pandangan tidak mainstreamnya dalam melihat perpecahan hubungan Habaib dan pra Kiai Nusantara (konflik nasab). Bagi saya sikap Gus Said cukup membuktikan bahwa beliau tidak terjebak pada fanatisme dan pembelaan berlebihan. Jika seperti Gus Said menerima kalangan habaib bukan berrti memuja atau mengkultuskan tetapi faktannya memang peran Habaib dalam perjuangan kemerdekaan dan penyebaran ajaran Islam di Indonesia tidak dapat dihapus dari catatan sejarah.
Apa yang diajarkan oleh gus Said sedikit banyak berhubungan dengan corak kurikulum pondok tersebut. Sebagai tambahan informasi bahwa Pondok Pesantren Lirboyo memang tidak mencitrakan tasawuf dalam ajaran tarekat yang rigid, meski di dalam pondok tersebut sebenarnya juga banyak dilaksanakan kajian tentang kitab-kitab tasawuf. Pondok ini mencitrakan dirinya sebagai pesantren dengan slogan thoriqah ta’līm wa al’ta’allum. Jalan spiritual yang mereka pilih adalah mengajar dan belajar. Beberapa pimpnan Pondok Lirboyo juga pernah berselisih paham ketika awal berdiri Jemaah sholawat Wahidiyyah yang berpusat di Dunglo, Kediri. Para santri tidak diperkenankan untuk mengikuti Jemaah tersebut. Ada motif khusu di balik sikap para Kiai tersebut.
Saya tidak berani memastikan apakah corak tasawuf yang diajarkan oleh Gus Said berkaitan langsung dengan visi Pondok. Akan tetapi meskipun tidak ada label tarekat tertentu pada pondok tersebut tetapi ajaran tasawuf tetap menjadi spirit penting dan dibumikan dengan berbagai pola dan bentuk ajaran praktis yang ada.
![]() |
| Iklan tertempel di dinding kamar mandi santri |
Lantas apa yang dimaksud dengan tasawwuf zirā’iyyah. Setelah saya berhasil mendapatkan manuskrip tersebut. Lebih tepatnya bukan manuskrip tetapi fotokopian teks beberapa lembar, kemudian saya membaca isinya. Sayangnya kala itu lembaran yang dipublikasikan tidak lengkap. Sepertinya teks terseut disiapkan berdasarkan kebutuhan tiap-tiap menjelang pertemuan. Setiap pertemuan hanya disiapkan beberapa lembar saja. Walhasil saya hanya mendapatkan satu topik saja. Teks yang saya dapatkan seputar catatan sejarah tentang aktifitas pertanian para Rasul dan Nabi. Catatan sejarah tersebut dinukil dari berbagai Riwayat yang sahih.
Dari teks pendek itu saya memahami bahwa bercocok tanam atau bertani adalah profesi mulia. Aktifitas tersebut dilalukan oleh para Nabi dan orang-orang salih masa lalu.
Dari pemaparan teks tersebut ada pesan penting bahwa ajaran tasawuf tidak hanya dibatasi pada ajaran spiritualitas yang individual. Atau dalam makna sederhana ajaran tasawuf tidak hanya dikesankan sebagai ajaran tarekat yang hanya diamalkan oleh orang-orang tertentu. Pada kadar tertentu bahkan tasawuf dikesankan sebagai ajaran yang hanya diperuntukkan bagi orang orang tua saja. Atau bagi orang orang yang sudah lanjut usia.
Saya memang tidak mengikuti secara langsung kegiatan pembacaan manuskrip tetapi telaah saya pada teks tersebut mengesankan bahwa tasawuf itu inklusif. Penyematan ajaran pelestarian lingkungan sebagai ajaran tasawuf menurut saya menunjukkan bahwa tasawuf benar merupakan ajaran yang substantif. Hanya dengan mencerna mendalam maka ajaran tasawuf tersebut akan dapat diekstraksi dan diartikulasikan ke dalam berbagai bentuk ajaran.
Lirboyo sebagai pondok tua sudah lebih dulu menyuarakan pentingnya peduli terhadap lingkungan dan memulyakan profesi petani. Hal itu sebelum maraknya program swasembada pangan oleh Pemerintah atau ekoteologi yang digagas oleh Kementerian Agama. Pesantren sebagai sub kuktur, sebagaimana pandangan Gus Dur kontribusinya dalam membangun dan merawat masyarakat tidak bisa ditampik. Pesaatren telah mengajarkan, tidak hanya doktrin keislaman melainkan juga bekal menjalani kehidupnan, khususnya pada tingkatan yang paling bawah.
Tulisan singkat ini sebagai pemantik. Jika ada yang membaca dan memiliki informasi lebih detil tentang topik ini semoga berkenan untuk berbagi.

.jpeg)
Komentar
Posting Komentar