Rizqa Ahmadi
Confessionality dan Ecuminesm merupakan dua kata yang sangat dekat dengan topik relasi antara agama atau aliran keagamaan. Confessionality yang mungkin saja dapat disepadankan dengan sektarianisme atau dalam bahasa Arab al-madzhabiyyah menempatkan sekte-sekte dalam agama saling mempertahankan identitas diri mereka dan pada kadar tentu menjaga jarak dengan lainnya dengan merasa paling benar dan akan selamat serta saling menyalahkan. Sementara Ekumenisme (maskūniyyah) yang berakar pada upaya unifikasi ajaran dan persatuan umat di dalam tradisi Kristiani juga terjadi dalam wacana keislaman. Ekumenisme Islam yang paling mendapatkan perhatian adalah dialog intra-faith Sunni dan Syi’ah yang juga dikenal dengan istilah taqrīb.[1]
Artikel ini mereview monograf terbaru karya Hossam Ouf[2] salah seorang peneliti di University of Tubingen Jerman, tentang studi Hadis yang memiliki hubungan cukup kuat dengan wacana ekumenisme. Buku yang diberi judul Hadith Transmission and Confessionality[3] meneliti kanon hadis induk (kutub al-mutun) dan proses transimisi Hadis yang mempengarui pembentukan ajaran dan doktrin Sunni dan Syiah. Buku ini mengkaji dua kitab kanon besar di dalam tradisi Sunni yakni Sahīh al-Bukhāri karya Al-Bukhari (w. 870 M.) dan dalam tradisi Syi’ah yakni Al-Kāfi karya al-Kulayni (w. 941 M.). Dua kitab tersebut diplih karena dianggap merepresentasikan masing-masing kedua madzhab besar di dalam Islam, meski semula penulis ingin meniliti tentang kanosisasi dalam dua tradisi secara keseluruhan. Pilihan Ouf saya kira cukup mewakiliki sebab kanon Hadis dalam dua tradisi, Sunni dan Syiah tidak sedikit namun kedua kitab terpilih adalah kitab induk hadis yang otritattif.
Argumen kunci dalam buku tersebut tentang sejauh mana hubungan periwayatan Hadis dengan konfusionalitas atau faham sektarian. Dengan kata lain, bagaimana transmisi hadis mempengaruhi teologi Sunni dan Syi’ah sekaligus bagaimana transmisi Hadis tersebut dapat mempengaruhi pembentukan identitas Sunni dan syi’ah. Selain itu, penulis juga ingin melihat lebih jauh bagaimana konfusionalitas para kolektor hadis dapat membentuk metodologi dengan mengumpulkan dan menyeleksi Hadis tertentu yang memiliki hubungan dengan pembentukan kedua teologi tersebut.
Struktur buku terdiri dari lima bab, satu pendahuluan dan empat pembahasan. Bab pendahauluan berkisar tentang metodologi, latar belakang, dan pertanyaan kunci layaknya sebuah penelitian yang dimulai dari latar belakang kajian dan beberapa unsur pada umumnya. Pada bab kedua penulis mengkaji kedudukan hadis sebagai topik sentral bagi Sunni maupun syi’iah. Pada bagian ini penulis juga menyebutkan hadis hadis popular yang ideologis yang khas seperti hadis Ghadīr khum dan hadis tsaqalain. Membaca bab ini memberi gambaran bahwa konservasi hadis tidak hanya ada di dalam tradisi Sunni tetapi juga dalam tradisi Syi’ah. Pada bab ketiga penulis mengelaborasi tentang hubungan konfesionalitas dengan konsep Hadis dan sunnah dalam tradisi Sunni dan Syi’ah yang merupakan inti dari kajian pada buku tersebut. Bab keempat menjelaskan tentang representasi Sahīh al-Bukhari dan Al-Kāfi dan juga literatur hadis Sunni dan Syi’ah seperti kitab rijāl(biografi para perwai) dan Jarh wa al-ta’dīl (kritik perawi). Bab terakhir buku tersebut berisi tentang refleksi kritis baik internal maupun eksternal terhadap kedua kitab. Kritik internal dan eksternal yang dimaksud adalah bagaimana kedua tradisi saling mengkritik satu sama lain. Kritik eksternal ini bertujuan untuk menunjukkan peran konfesionalitas dalam pemebentukan ideologi Sunni ataupun Syi’ah yang berakar pada tradisi periwayatan dan pengumpulan Hadis. Singkatnya, baik di dalam tradisi Sunni ataupun Syi’ah, dengan bertumpu pada Hadis-hadis tertentu dan dengan metodologi pembenaran masing-masing, kelompok mereka saling mengkritik untuk meneguhkan ideologi masing-masing.
Namun, di sisi lain dengan kritik ini, Ouf menemukan bahwa ada banyak kemiripan matan (konten) baik di dalam Sahīh al-Bukhāri maupun al-Kāfi, yang membedakan adalah jalur sanadnya. Isnad pada hadis yang sama tersebut dapat berbeda sebab konsep sanadanya memang berbeda. Mereka bertemu pada matan yang mirip atau bahkan sama namun tidak bersepaham tentang jalur transmisi yang mengabarkan Hadis tersebut.
Saya juga mendapatkan informasi bahawa, kata kunci buku tersebut terletak pada keadilan sahabat (‘adālatu al-Sahābah) dan kemaksuman para Imam (‘Ishmatu al-ai’mmah). Konsep tersebut menurut penulis memiliki pengaruh kuat bagaimana al-Bukhari dan al-Kulaiyni berperan di dalam membentuk doktrin kedua madzhab. Hadis-hadis yang dicantumkan oleh al-Bukhari dan Al-Kulayini berperan penting dalam meneguhkan keadailan Sahabat dan juga kemaksuman para Imam. Selain itu, penulis juga mengeksplorasi bagaiaman Sunni memahami kemaksuman para Imam dan bagaiamana Syi’ah memahami keadilan para sahabat serta bagaimana kedua kelompok saling berdialog. Deskripsi tersebut disajikan untuk memberikan gambaran konfesionalitas dalam periwayatan hadis.
Dalam sebuah wawancara di chanel youtube Al-Mahdi Institute[4], dalam riset tersebut penulis ingin mengajak pembaca untuk mendialogkkan kedua madzhab secara berimbang sebab sebagian buku tentang ada banyak kajian tentang al-Bukhari ataupun al-Kulayini lebih cenderung normatif judgmental research atau lebih dogmatis dan normatif. Menurutnya, pola kajian semacam itu kurang produktif yang tidak mengarah pada Islamic ecuminisme. Semantara dalam monograf tersebut, Ouf mengklaim bahwa tulisannya bukanlah tulisan normatif melainkan deskriptif yang dapat menjadi bahan bacaan yang mendukung visi ekumenisme, khususnya dalam upaya dialog Sunni-Syiah yang telah lama digelorakan para sarjanawan. Menurtnya, mengkaji hadis memiliki peran yang sangat penting dalam dialog kedua madzhab sebab hadis memiliki kedudukan yang sama-sama tinggi bagi kedua kelompok.
Judul: Hadithüberlieferung und Konfessionalität. Al-Buḫārīs al-Ǧāmiʿ aṣ-ṣaḥīḥ und al-Kulaynīs al-Kāfī in den sunnitischen und zwölferschiitischen Hadithwissenschaften (Eng: Hadith Transmission and Confessionality)
Penulis: Hossam Ouf
Penerbit: De Gruyter
Tahun terbit: 2024
[1] Ibrahim Kazerooni. The Promises and Challenges of Taqrib. Pada Legacies of Islamic Ecumenicism
Taqrib, Shi’a-Sunni Relations, and Globalized Politics in the Middle East. Mohammad Sagha Ed. 2021. The President and Fellows of Harvard College Printed in the United States of America; Mohammad Sagha. From Cairo to Samarra. pada Legacies of Islamic Ecumenicism Taqrib, Shi’a-Sunni Relations, and Globalized Politics in the Middle East. 2021. Mohammad Sagha Ed. 2021. The Transnational Scholarly Reception of the Taqrib Project
[2] https://uni-tuebingen.de/fakultaeten/zentrum-fuer-islamische-theologie/personen/wissenschaftliches-personal/dr-hossam-ouf/
[3] Judul asli monograf ini berbahasa jerman: Hadithüberlieferung und Konfessionalität. Al-Buḫārīs al-Ǧāmiʿ aṣ-ṣaḥīḥ und al-Kulaynīs al-Kāfī in den sunnitischen und zwölferschiitischen Hadithwissenschaften
[4] Al-Mahdi Institute. Hadith Transmission and Confessionality by Dr Hossam Ouf | AMI Library Book Talkshttps://www.youtube.com/watch?v=kivb34sX3sI, diakses 6 Desember 2025
Komentar
Posting Komentar