Syawal 2026 dikejutkan dengan kabar duka yang datang dari keluarga besar UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Prof. Dr Akhyak, M.Ag. wafat. Banyak orang kaget mendengar kabar tersebut sebab sebelumnya beliau masih berkatifitas seperti biasa. Saya pun mencoba mengonfirmasi dari berbagai sumber untuk memastikan kebenaran kabar tersebut.
Banyak orang menceritakan kebaikan dan kontribusi Prof. Akhyak dalam berbagai hal dengan beragam sudut pandang. Beliau dikenal sebagai aktifis, edukator, inisiator dan juga pemberdaya masyarakat. Sosok Prof. Akhyak meninggalkan legasi dalam hal membangun sekaligus mengembangkan institusi Pendidikan. Selain sebagai Direktur Pascasarjana di UIN Sayyid Ali Rahmataullah Tulungagung beliau juga mendirikan Pondok Pesantren dan mendirikan Perguruan Tinggi non-Pemerintah di luar tempat kerjanya. Beliau aktif sebagai pembina organisasi kepemudaan seperti Pramuka dan organisasi Mahasiswa ekstra kampus. Sosok Prof. Akhyak juga terlibat intensif dalam Organisasi Masyarakat Islam. Tidak aneh jika kepergiannya mendadak menyisakan rasa kehilangan bagi banyak orang lintas kelompok usia.
Mungkin saya tidak kenal terlalu dekat dengan beliau. Interaksi saya dengan beliau sebatas interaksi antara pimpinan dan rekan kerja. Oleh karenanya, mungkin saja persepsi saya atas Prof. Akhyak tidak sekaya teman-teman yang intensif bertemu beliau. Secara khusus saya mulai sering berinteraksi dengan beliau kira-kira sejak tahun 2020an, saat menjadi bagian dari pengelola Pascasarajana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Oleh sebab itu, saya tidak akan menceritakan di luar dari apa yang telah saya amati dan alami.
Sebagai “orang luar” saya mengamati bahwa sepak terjang Prof. Akhayak tidak mudah untuk dinilai dalam sekejap. Kita butuh kejelian dan kecermatan untuk menangkap pesan dan tujuannya. Maksud saya, ide-ide Prof. Akhyak untuk mengembangakan lembaga misalnya, sering kali mendapatkan kritik dari kolega kerjanya. Pengamatan sekilas atas keputusan-keputusannya tidak jarang menimbulkan kecurigaan dan sentiment negatif. Namun, di sisi lain ada banyak orang tak terkecuali lembaga telah mengambil manfaat dari gagasan beliau yang out of the box itu.
Gagasan yang out of the box itu dalam bahasa beliau disebut ontran-ontran. Diksi yang sering diungkapkan oleh Prof. Akhyak untuk menggambarkan ide-ide kegiatan yang mungkin kurang popular tapi memiliki semarak. Ontran-ontran biasanya ditargetkan untuk mendapatkan atensi publik.
Salah satu ontran-ontran yang menjadi perhatian civitas akademika UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung misalnya berkaitan dengan penerimaan mahasiswa asing untuk kuliah di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Harus diakui bahwa Prof. Akhyak adalah pembuka jalan para mahasiswa asing untuk kuliah di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Hanya Prof. Akhyak yang bisa membuat trobosan itu. Mahasiswa tersebut datang dari berbagai negara seperti Libya, Mesir, Turki, Arab Saudi dan Palestina. Keberanian beliau menembus aturan birokrasi yang rumit membuka jalan bagi Lembaga untuk meneruskan dan merapikan program tersebut. Gaya beliau ini mengingatkan saya pada pernyataan orang bijak. Ide segar atau suatu inovasi mula-mula diremehkan dan dikesankan negatif tetapi jika telah terbukti ada manfaatnya kemudian diterima dan diapresiasi.
Dalam konteks pengalaman personal, interaksi saya dengan Prof Akhyak biasanya dalam bentuk membantu beliau menyiapkan konsep sambutan. Memang saya bukan satu satunya orang yang diminta beliau untuk mengerjakan. Akan tetapi kesempatan berinteraksi semacam itu membuat saya belajar tentang banyak hal.
Salah satu pelajaran yang dapat saya petik adalah trust (kepercayaan). Tidak semua orang dapat mempercayakan kepada orang lain tentang topik yang akan dibicarakan kepada khalayak. Apalagi yang dipercaya adalah pendatang baru. Prasangka baik saya, hal tersebut menyimpan motif khusus. Selain kepercayaan boleh jadi berkaitan dengan pengkaderan dan juga pendidikan. Kepercayaan itu akan memaksa orang yang dipercayai untuk memaksa diri sekaligus memantaskan diri dan itu adalah pengalaman yang berharga.
Selain interaksi dalam menyusun draf sambutan, ada kenangan yang paling membekas bersama Prof akhyak. Kenangan ini menggelikan sekaligus menyimpan rasa bersalah hingga kini. Suatu ketika dalam perjalanan menuju Bali untuk mengikuti acara AICIS (Annual International Conference on Islamic Studies) tahun 2022 kami berada dalam satu bus yang sama.
“Pak Rizqa Bawa laptop” Suara yang membangunkan saya dari tidur. Ternyata Suara Prof. Akhyak. Dengan spontan saya menjawab “Memori laptopnya habis prof” Jawaban yang membuat penumpang bus lainnya tertawa. Iya, mereka menertawakan jawaban saya yang tidak selaras dengan pertanyaannya. Setelah saya benar-benar terbangun saya baru menyadari bahwa maksud saya adalah batreinya habis. Memang kondisinya saat itu laptop saya sedang habis batreinya tapi justru yang terlontar adalah memorinya habis. Beliau hanya senyum.
Kawan-kawan dengan nada sinis mencandai saya “wah pintar juga ya pak Rizqa menghidar dari perintah pimpinan”. Mereka berkelakar bahwa saya sengaja menghindari tugas Prof Akhyak dengan mlipir alias pura-pura memori laptonya habis. Padahal saat itu saya benar benar terselip lidah (slip of the tongue) dan tidak bermaksud berkelit dari pertanyaan beliau. Pasca kejadian itu Prof Akhyak pun juga tidak merespson balik dengan berlebihan atau nada negatif. Beliau berlalu dengan kesan biasa dan kemudian melanjutkan aktifitas lainnya.
Peristiwa tersebut meskipun sebuah ketidaksengajaan dalam berinteraksi tetap saja menyisakan rasa bersalah kepada beliau. Untung saja beliau adalah penyabar. Beliau adalah sosok yang tidak terlalu menghiraukan berbagai cibiran negatif yang datang dari orang lain. Cerita semacam ini juga sering saya dengarkan dari para kolega yang lain. Jika itu berlaku pada saya mungkin saya tidak dapat bersikap layaknya beliau bersikap.
Sekelumit cerita tersebut hanyalah pengalaman dan refleksi yang saya alami. Ontran-ontran Prof Akhyak memang sulit ditebak tapi yang pasti Prof. Akhyak telah menuju keabadian dalam keadaan yang baik. Usai menyelesaikan tirakat Ramadhan beliau dipanggil oleh Allah untuk kembali. Seperti sabda Nabi beliau kembali suci seperti bayi yang dilahirkan ibunya. Prof. Akhyak kini telah meninggalkan dunia namun jāriah perjuanggnya tetap hidup untuk dikenang dan memberi kemanfaatan kepada banyak orang. Selamat jalan Prof. Utang Rasa, Inna lillahi wa inna ilaihi rājiūn.
Komentar
Posting Komentar